Selasa, 28 Februari 2012

Dengarkanlah...

Ini ceritaku, sedikit cengeng namun akupun tak berdaya tuk mengelak..

Inilah curhatku, sekedar tuk melampiaskan apa yang kurasakan yang membebani pikiranku. Membuatku tercekam dengan segala "kutukan-kutukan" yang terucap mudah dari lidah yang lunglai tak bertulang.

Aku akui diriku memanglah egois, mudah meluapkan amarah dan mudah sekali membentak. Namun semua itu pasti punya penyebab yang membuatku benar-benar merasakan sakit di ubun-ubunku dan meledakkannya lewat nada-nada berirama tinggi, dengan hentakan yang tegas, dan dengan api amarah yang membara. Namun semarahnya aku, aku tak sampai menggunakan tanganku, tak sampai lama untuk dapat tersenyum kembali.

Ini kisahku dengan kekasihku, dimana perhelatan keegoisan masing-masing yang sama-sama kuat dan tiada satupun yang mau mengalah. Lambat laun aku mencoba memahaminya, mengerti perasaannya sebagai wanita yang tak mau dibentak. Tapi dia sama sekali tidak berubah, tiada sekalipun dia mau dibentak, tapi dengan mudahnya dia melakukan itu terhadapku dengan kata-katanya yang kasar.

Aku sungguh jauh darinya, jarak jakarta - surabaya memang bukanlah jarak yang dekat untuk menjalin sebuah hubungan. Namun kami mampu bertahan hingga setahun lebih walaupun dengan emosi yang seringkali datang. Aku anggap itu wajar, karena jarak yang membuat kami tak pernah ketemu.

Dia yang mengajariku untuk bagaimana aku harus bersikap sebagai pacar, dia yang lebih dulu membatasi pergaulanku dengan teman-teman wanitaku, bahkan hanya sekedar sms pun dia tak mengijinkan. Dan dia pun bilang mau melakukan hal yang sama untukku. Kalimat yang dia bilang yang masih terngiang sampai sekarang "Jika aku tahu itu menyakitimu, maka aku tidak akan melakukannya wlau tanpa kamu minta sekalipun". Mungkin kalimat itu sudah basi, bahkan dia sendiri tak mengingat kata-kata yang pernah terlontar dari bibirnya itu.

Kini semua berubah, awal-awal yang indah telah terlalui dan keegoisan kini kembali mencekam hari-hari dalam hubungan asmara yang terkadang membuatku muak.

Aku akui dia cantik, sehingga banyak pula lelaki yang datang merayu dan ingin mendapatkan cintanya. Awalnya dia menolak, bahkan sekedar berbagi nomer handphone pun dia tak mau. Tapi lama-kelamaan hal itu menjadi biasa baginya, dan dengan mudah dia memberikan no handphone-nya secara sukarela, dan dia melupakan apa yang dulu pernah dia bilang. Aku kembali mencoba memahaminya, wajarlah jika sesama manusia berhubungan dengan sesamanya. Namun justru dia sedikit melupakanku, waktu-waktu yang biasanya dia gunakan untukku bertelfon ria, kini terbagi dengan teman-temannya yang tak jelas, yang selalu merayu dan menggodanya. Aku bilang padanya, "Gak apa-apa jika hanya sekedar smsan, tapi kalau emang udah ada kata-kata rayuan jangan diladeni, dicukupkan saja".


Tapi semua tak didengar olehnya, berkali-kali lelaki mengatakan cinta padanya dan dia tak memberikan ketegasan apapun, lalu tak pantaskah aku cemburu? Jika memang dia tak mampu bersikap tegas biarkan aku yang menegaskannya dengan bicara baik-baik pada lelaki kurang ajar itu. Tapi, dia TAK MAU!!!
Dia selalu bilang dia tahu apa yang dia lakukan, dia bukan anak kecil dan dia tak mau untuk dibatasi. Seperti burung yang bebas terbang, tanpa ikatan jalinan asmara di antara kami.

Lalu apa yang aku takutkan terjadi, dia termakan rayuan dan pendekatan yang dilakukan pemujanya, secara terang-terangan dia bilang suka sama cowok lain, bahkan dia menangisi cowok itu dan telingaku dapat mendengarnya secara jelas dari speaker handphoneku, masih tak pantaskah aku cemburu???
Walaupun akhirnya dia bisa membuktikan kebenaran ucapannya bahwa perasaannya hanya sesaat, tapi dia sama sekali tak berubah, dia malah jalan sama cowok yang dianggap sebagai sahabatnya. Dia yang awalnya membuat peraturan, kini dia sendiri yang melanggarnya. Aku tahu kebanyakan cowok yang deket sama dia selalu pengen mendapatkan hal yang lebih. Mungkin memang aku salah yang kemudian menjadi protektif padanya, tapi awal yang membuatku seperti ini masih tak mau disalahkan. Dan kini di saat dia mempunyai banyak teman, aku sudah kehilangan teman-temanku.

Dia dengan mudah melontarkan janji, namun dengan mudah pula ia melupakannya. Bagai angin berlalu, janji yang terucap tak dapat teringat kembali.

Pertama kali aku ke jakarta, pertemuanku dengannya cukup baik. Namun sebenarnya aku merasa dia tak perhatian denganku. Disaat aku sendirian di kota yang sama sekali asing bagiku, bagai terdampar di lingkungan yang tak aku inginkan, dia yang dalam keadaan libur kerja pun tak mau menemuiku. Capek! Itulah alasannya. Aku pun mencoba mengertinya, dan kembali ke surabaya dengan perasaan yang kecewa. Namun cintaku tak berkurang padanya, aku masih sangat mencintainya.

Hubunganku kembali berlanjut dengan jarak jauh, tiada hari bagi kami untuk tidak saling menyapa, bahkan dalam sehari bisa berjam-jam untuk bertelfon ria. Itu yang menyebabkan aku tak betah di kampus dan memilih segera pulang ketika tiada jam kuliah. Aku pengen telfon dia.
Begitupun dirinya, dia selalu menelefonku, menanyakan kabarku ketika aku terlambat menghubunginya. Kami sungguh begitu dekat, teramat intim walaupun tak seintim jarak di antara kami. Tapi itu dulu..

Sekarang, semenjak dia suka sama cowok lain itu hubunganku semakin renggang, walaupun dia bisa meninggalkan cowok itu demi aku, tapi dia berbeda. Dia selalu bilang capek, dan selalu malas ketika ku telfon. Ketika aku tak menghubunginya sekalipun, diapun jarang menghubungiku. Kami semakin jauh, namun ketika dia tak meras seperti itu. Dia hanya bilang capek..

Pertemuanku kedua ke jakarta berharap bisa memperbaiki keadaan, sulaman-sulaman cinta yang sempat sedikit terkoyak bisa terajut lagi. Namun dia tetap tak berubah. Sama seperti awal pertama kami ketemu. Mungkin itu memang tak menunjukkan cinta atau bukan, tapi ketika aku ingin ke tempat kerjanya, diapun melarang, bahkan kata-kata kasar pun dia ucapkan ketika aku baru sampai di rumahnya. Di depan adiknya dia tak menganggapku selayaknya kekasih yang pantas dihargai. Akupun pergi dari rumahnya, bukan untuk kabur, tapi aku hanya tak ingin pertengkaran ini didengar oleh tetangga-tetangganya dan cacian itu menjadi biasa di telinga adiknya. Aku pikir dia mencegah, tapi justru mengusir. Aku yang lelah untuk menghampirinya, tapi ketika sudah ku hampiri aku tak dianggap.

Apa masalahnya jika aku ke tempat kerjanya, toh dia bekerja di mall yang biasa orang-orang keluar-masuk kedalamnya. Kenapa sampai sebegitunya dia melarangku, bahkan lebih memilih hubungan kami berakhir daripada sekedar mengantarnya ke tempat kerja.
Aku hanya ingin teman-temannya tahu, dia tak sendiri. Aku ingin lelaki-lelaki yang suka sama dia pun sadar. Tapi dia tetap tak mau mengerti. Dengan alasan atasan sampai dengan hubungan yang tidak baik dengan temannya menjadi alasan kenapa aku tak boleh datang. Aku hanya ingin temannya tahu. Itu saja!!!
Apa aku salah??

Akhirnya akupun kembali ke surabaya dan dengan perasaan yang sungguh-sungguh kecewa, tapi hubungan kami tak berakhir. Aku terlalu mencintai dia.
Aku pikir dia berubah setelah meminta maaf, dia yang mengakui dirinya telah menginjak-injak harga diriku, tapi ternyata aku salah.

Dan mungkin karena kekesalanku dan kekecewaanku juga aku kembali membentaknya, namun itupun juga karena dia terlebih dahulu membentakku. Dan karena emosi yang telah memuncak, aku pun secara gegabah menuliskan sms dengan kata-kata kasar dan meminta dia agar jangan menghubungiku lagi.
Kini sampai sekarang dia memilih untuk sendiri, tak mau lagi menjalin hubungan denganku. Aku telah memintanya, aku pun minta maaf atas segala kekasaran yang telah aku buat dan keegoisan yang aku timbulkan. Tapi dia tak mau mengerti, dia tetap menyudutkankanku atas apa yang telah aku lakukan. Pertengkaran-pertengkaran yang terjadi seolah-olah semua tertujukan akibat kesalahanku.
Tidakkah dia juga merasa atas sikapnya? Tidakkah dia sama sekali tak merasa bersalah??


Kini aku seperti pecundang yang masih mengharapkannya, aku mencoba memakluminya sebagai remaja yang belum dewasa. Tapi sampai kapan dia sadar? Kenapa justru dia yang merasa lelah?
Kenapa justru dia yang memutuskan semua ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar